Rabu, 27 Januari 2016

GEOLOGI REGIONAL TORONIPA

GEOLOGI REGIONAL TORONIPA
     1.      Geomorfologi Regional
 
Pulau Sulawesi, yang mempunyai luas sekitar 172.000 km2, dikelilingi laut yang cukup dalam. Sebagian daratannya dibentuk oleh pegunungan yang ketinggiannya mencapai 3.440 m (gunung latimojong). Pulau Sulawesi berbentuk huruf “K” dengan empat lengan : lengan timur memanjang ke timur laut – barat daya, lengan utara memanjang ke barat – timur dengan ujungnya membelok ke arah utara – selatan, lengan tenggara memanjang ke barat laut – tenggara, dan lengan selatan membujur ke utara – selatan.
Setidaknya ada lima satuan morfologi yang dapat dibedakan dari citra IFSAR dibagian tengah dan ujung selatan lengan tenggara Sulawesi, yakni satuan pegunungan, perbukitan tinggi, perbukitan rendah, dataran rendah dan karst. Adapun secara umum dari morfologi perbukitan rendah yang merupakan dataran alluvium luas yang terdiri atas bukit kecil dan rendah dengan mofologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama batuan sedimen klastik mesozoikum dan tersier.
Satuan morfologi dataran rendah dijumpai dibagian tengah ujung selatan lengan tenggara, merupakan dataran rendah. Batuan penyusunnya terdiri atas batupasir, kuarsa, dan konglomerat kuarsa fomasi meluhu. Pada dataran ini mengalir sungai – sungai pada musim hujan berair melimpah sedang pada musim kemarau kering. Hal ini mungkin batupasir dan konglomerat sebagai dasar sungai masih lepas, sehingga air dengan mudah merembes masuk kedalam tanah.
     2.      Stratigrafi Regional
 
Kepingan benua di lengan tenggara Sulawesi dinamai mintakat benua Sulawesi tenggara (south east Sulawesi continental terrane) dan mintakat matarombeo oleh surono (1994). Kedua lempengan dari jenis yang berbeda ini bertabrakan dan kemudian ditindih oleh endapan molasa Sulawesi. Setelah tabrakan tersebut lengan tenggara Sulawesi terbagi menjadi 3 lajur, yaitu :
·         Kepingan benua
·         Complex ofiolit
·         Molasa Sulawesi
Litologi pada daerah fieldtrip (toronipa) merupakan bagian dari formasi meluhu anggota toronipa yang didominasi batupasir, konglomerat, batulempung dan serpih. Umur formasi meluhu berdasarkan fosil amonit dan belemnite yang dijumpai Trias akhir. Formasi meluhu ini ditindis tak selaras oleh satuan karbonat formasi tampakura. Satuan batuan karbonat ini berupa batugamping jenis oolit, mudstone, wackestone, dan dackstone. Kumpulan foraminifera kecil dan besar menunjukan umur eosin – oligosen dijumpai dibeberapa bagian formasi ini.
Penyebaran formasi meluhu sangat luas di lengan tenggara Sulawesi. Formasi ini telah dipublikasikan secara luas, diantaranya oleh surono dkk (1992), surono (1997b, 1999), serta surono dan bachri (2002). Surono membagi formasi meluhu menjadi 3 anggota (dari bawah keatas) :
1.  Anggota toronipa yang didominasi batupasir dan konglomerat. Anggota yang dengan penyebaran terluas pada formasi meluhu.
2.        Anggota watutaloboto didominasi batulempung, batulanau dan serpih.
3.        Anggota tue – tue dicirikan adanya napal dan batugamping.
Pada daerah lokasi fieltrip merupakan anggota toronipa formasi meluhu, dimana satuan litologinya didominasi batupasir dan konglomerat dengan sisipan serpih, batulanau dan batulempung. Sisipan tipis lignit ditemukan setempat seperti disungai kecil dekat mesjid nurul huda, kota kendari dan tebing tepi jalan diselatan tinobu. Lokasi anggota toronipa berada ditanjung toronipa, sebelah tenggara desa toronipa.
Struktur sedimen yang terekam pada anggota toronipa berupa silang siur, tikas seluring, gelembur gelombang, perlapisan bersusun dan permukaan erosi. Lag deposit umum ditemukan pada bagian bawah runtutan sedimen di atas permukaan erosi. Batang, ranting, dan cetakan daun juga ditemukan pada endapan klastik halus. Setiap runtutan batuan sedimen menunjukan penghalusan keatas, yang menunjukan energy melemah ke arah atas. Semua fakta dilapangan ini memberikan gambaran bahwa anggota toronipa di endapkan pada lingkungan sungai kekelok.
Pada waktu pengendapan anggota toronipa, laut berada di timur laut dan garis pantai bergerak ke arah barat daya pada waktu pengendapan anggota watutaluboto dan anggota tue – tue. Integrasi hasil berbagai analisis tersebut diatas menggambarkan bahwa cekungan formasi meluhu mempunyai iklim subtropics bercurah hujan tinggi dan topografi purba melandai ke arah utara. Topografi daerah sumber batuan kasar munkin disebabkan aktivitas tektonik sewaktu proses lepasnya kepingan benua Sulawesi tenggara dari tepi utara Australia.  
     3.      Struktur Regional 
 
Bentuk “K” pulau Sulawesi mencerminkan kompleksitas tektonik yang dialaminya. Berdasarkan data geologi dan geofisika, simandjuntak (1993 dalm darman & sidi, 2000) menyatakan bahwa pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya mengalami empat kali kegiatan tektonik, salah satu diantaranya adalah tumbukan tipe thethyan pada neogen, yang mencirikan  struktur toronipa dimana tumbukan tipe thethyan neogen, sebagian kepingan benua tersebut bertumbukan dengan kompleks subduksi kapur dan ofiolit di Sulawesi dan daerah sekitarnya pada neogen.
Struktur regional geologi yang berkembang di lengan tenggara Sulawesi didominasi oleh sesar berarah barat laut – tenggara, yang utama terdiri atas sesar matano, kelompok sesar kolaka, kelompok sesar lawanopo dan kelompok sesar lainea.
Berdasarkan hasil penggambaran struktur regional Sulawesi dan daerah sekitarnya, daerah penelitian yaitu desa toronipa merupakan salah satu kawasan daerah yang dilewati oleh sesar lawanopo dan terusan Hamilton fault yang berarah tenggara – barat laut.
di postk an erbit askar geologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar